Tampilkan postingan dengan label Buddhism. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buddhism. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 September 2012

SEJARAH HARI KATHINA

Jubah Kathina 
Kathina bukanlah suatu upacara peringatan melainkan upacara perayaan yang diselenggarakan setelah para Bhikkhu melakukan vassa. Vassa adalah masa dimana para bhikkhu melakukan retret/latihan selama musim hujan. Pada awalnya para bhikkhu melakukan penyiaran Dharma tidak mengenal waktu atau sepanjang tahun. Hal ini menimbulkan kritikan dari masyarakat karena pada musim hujan banyak serangga dan tunas-tunas yang terinjak oleh para bhikkhu (Vin. I, 137-138).
Karena itu, Buddha mengijinkan para bhikkhu untuk melakukan latihan atau penyepian di satu vihara tertentu dan mematuhi peraturan vassa. Kewajiban ini tidak mengabaikan tugas bhikkhu lain yang penting sehingga para bhikkhu masih diperkenankan bepergian sepanjang tidak lebih dari tujuh hari (Vin. I, 143). Maka, masa kebhikkhuan seorang bhikkhu diukur dari berapa vassa yang sudah dijalani dengan baik, bukan dari berapa lama ia menjadi bhikkhu.
Diakhir masa vassa, yaitu pada hari purnama di bulan  assayuja, dilaksanakan upacara pavarana. Paravana berarti intropeksi diri selama masa vassa dengan megakui kesalahan, menerima kritik atau nasehat, dan membaca patimokha. Pada hari berikutnya hingga purnama di bulan kattika dapat dipilih salah satu dari waktu satu bulan untuk menyelenggarakan upacara kathina. Maka upacara kathina tidak hanya sehari melainkan sebulan penuh, tetapi di vihara tempat para bhikkhu menjalani vassa hanya boleh dilaksanakn sekali saja.
Umat mempersembahkan empat kebutuhan pokok para bhikkhu berupa jubah, makanan, obat-obatan dan tempat tinggal. Upacara penyerahan jubah dihubungkan dengan riwayat tiga puluh orang bhikkhu dari Pava. Dalam perjalananya mereka singgah di kota Saketa untuk menjalani vassa. Setelah sembilan puluh hari hujan tidak berhenti, mereka menembus hujan dengan tujuan menemui Buddha di kota Savatthi. Melihat para bhikkhu yang demikian basah dan kotor, Buddha mengijinkan agar mereka memperoleh jubah yang baru. Sejak itu menjadi lazim setiap anggota mendapatkan seperangkat jubah baru setahun sekali setelah menyelenggarakan vassa (Vin. I, 253-254).
Upacara Kathina dapat diselenggarakan jika minimal ada empat bhikkhu (tidak termasuk samanera) yang menjalani masa vassa di vihara tersebut dengan sempurna. Jika sarat tidak terpenuhi tetapi bhikkhu yang hadir ada empat atau lebih, maka umat bisa menyelenggarakan “sangha dana dimasa kathina”. Jika hanya dihadiri oleh satu hingga tiga orang bhikkhu, umat melaksanakan upacara “dana jubah (civara dana) dimasa kathina”. Namun, apabila tidak ada kain bahan jubah maupun jubah yang akan dipersembahkan maka dilaksanakan upacara “dana dimasa kathina”.
(Ivan Y./ Pelembang, 17 Oktober 2010)

Dana (kebajikan Terbesar)



Dana berarti perbuatan memberi, hal ini sangat di puji sebagai kebajikan yang besar. Dana juga merupakan titik mula menuju pembebasan. Pada orang-orang baru Buddha Gotama selalu memulai kotbah bertahap beliau dengan penjelasan mengenai keluhuran dari berdana (danakatha, Vin. I, 15, 18). Dari 3 dasar untuk melakukan tindakan-tindakan berjasa (puñña kiriyavatthu), berdana merupakan unsur pertama, dua lainnya adalah moralitas (sila) dan pengembangan mental (bhavana) (A. iv, 241). Berdana juga merupakan unsur pertama dari 10 pāramitā (syarat yang dibutuhkan untuk mencapai kebuddhaan). Oleh karena itu, di dalm perjuangan menuju pembebasan sebagai Ārahat atau Buddha, pada mulanya orang harus mempraktekkan dana.

Fungsi Dana
Berdana memiliki nilai yang luar biasa dalam proses pemurnian mental. Berdana merupakan senjata yang ampuh untuk mengatasi keserakahan (lobha). Keserakahan (lobha) merupakan salah satu dari 3 akar motivasi tak bajik (akusalamula). Buddha mengingatkan kita dalam Devatasamyutta Sutta “Atasilah noda keserakahan dan praktekkan dana” (S. I, 18). Oleh karena itu berdana adalah penangkal yang jitu untuk mengatasi keegoisan dan keserakahan. Buddha kembali mengingatkan kita dalam Dhammapada, 223; untuk menakhlukkan kekikiran dengan praktek kedermawanan. Kekikiran bukanlah satu-satunya penghalang dalam berpraktek dana. Penghalang lainnya adalah kecerobohan dan ketidaktahuan akan hukum karma dan kehidupan setelah mati (punarbhava).
Bagi seseorang yang tidak menyadari manfaat besar dari berdana, sangatlah sulit melepaskan segala sesuatu yang berharga dan disayanginya. Dalam Latukikopama Sutta  Buddha menggambarkan bagaimana sulitnya seseorang yang kekurangan kekuatan spiritual untuk melepaskan benda-benda yang sudah lama bersamanya (M. I, 449). Seekor burung puyuh dapat mati karena terjerat

Cara Berdana
Faktor mental/niat seseorang sangat menentukan nilai dari praktik berdana. Maka kita harus memperhatikan faktor niat seseorang sebelum, saat dan sesudah berdana (A. III, 336). Bila dengan penuh keyakinan dan pikiran bahagia sebelum, saat dan sesudah berdana maka akan memberikan hasil/pahala yang maksimal. Besar kecilnya pahala berdana akan tergantung pada kemurnian pikiran dari pemberi maupun penerima dana, kebersihan (kehalalan) dari materi yang diberikan. Selain itu kita juga harus memperhatikan kebersihan dari barang yang didanakan.
Apa saja yang dapat didanakan? Apapun yang berguna, dan praktis dapat digunakan. Buddha menjelaskan dalam Niddesa (Nd. 2, 523) ada empat belas benda yang tepat untuk didanakan yaitu jubah/pakaian, persembahan makanan, tempat berdiam, obat-obatan dan kebutuhan lain bagi yang sakit,  makanan, minuman, kain, kendaraan, bunga-bungaan, parfum, minyak, tempat tidur,  rumah dan lampu.
Untuk melatih kedermawanan seseorang tidak harus memiliki barang yang banyak. Seseorang dapat memberikan apa yang dimilikinya. Dana yang diberikan oleh seseorang yang berpenghasilan kecil dianggap sangat berharga (S. I, 18). Selain dana materi ada sejenis dana lain yang lebih tinggi pahalanya yaitu dhammadana (Dhp. 354). Dhammadana dapat dilakukan dengan berpraktik Dhamma Seperti praktik lima sila yang pahalanya tidak dapat diragukan lagi baik dimasa kini atau dimasa yang akan datang. Dhammadana dapat pula berupa memberikan penerangan Dhamma kepada orang lain.

Manfaat Berdana
Praktik berdana dapat meningkatkan persatuan sosial dan solidaritas, juga dapat menjembatani kesenjangan psikologis dan ekonomi antara yang mampu dan tidak mampu. Manfaat lain praktik berdana dapat menghilangkan kebenciaan dalam diri seseorang (Sn. 506).  Orang yang berhati dermawan akan dicintai oleh banyak orang ( A. iii, 40). Berdana juga mengkokohkan persahabatan. (Sn. 187), kelahiran di alam surga (A. iv, 239), atau kelahiran sebagai manusia dengan kualitas yang baik seperti kekayaan, dan keberuntungan.
(Ivan Yulietmi./ Pelembang, 17 Oktober 2010)

Senin, 17 September 2012

LIMA PERENUNGAN MENJELANG MAKAN DENGAN HENING


1.    Makanan ini adalah pemberian seluruh alam semesta—bumi, langit, dan dari berbagai hasil kerja  
        keras.
       2.    Semoga kami makan dengan penuh kesadaran dan rasa terima kasih, agar kami layak untuk menerimanya.
      3.    Semoga kami dapat mengenali dan mengubah bentuk-bentuk pikiran tidak bajik, terutama keserakahan, dan belajar untuk makan dengan kewajaran.
4.    Semoga kami dapat menjaga welas asih agar tetap hidup, melalui cara makan sedemikian rupa sehingga mengurangi penderitaan semua makhluk, melestarikan planet ini, dan memutar balik arus pemanasan global.
5.    Kami terima makanan ini agar kami dapat merawat hubungan persaudaraan kakak dan adik,    
       memperkuat Sanggha, dan memupuk tujuan luhur dalam melayani semua makhluk.

LIMA LATIHAN ELING (Pancasila)



Latihan Eling Pertama:
Menjunjung Tinggi Kehidupan
 
Sadar akan penderitaan yang disebabkan oleh penghancuran kehidupan, aku bersedia memupuk pengertian mendalam atas keadaan saling bergantungan dan belas kasih serta mencari cara untuk melindungi kehidupan manusia, binatang, tumbuhan, dan bumi ini. Aku bertekad untuk tidak membunuh, tidak membiarkan pihak lain membunuh, dan tidak mendukung segala jenis tindakan pembunuhan di dunia ini, baik melalui pikiran maupun cara hidupku. Aku mengerti bahwa tindakan merusak timbul dari kemarahan, ketakutan, keserakahan, dan intoleransi yang berakar dari pemikiran diskriminatif dan dualistik, aku akan menumbuhkan sifat keterbukaan, non diskriminasi, dan non kemelekatan terhadap pandangan demi mentransformasikan kekerasan, fanatisme, dan dogmatisme dalam diriku dan di dunia ini.


Latihan Eling Kedua:
Kebahagiaan Sesungguhnya

Sadar akan penderitaan yang disebabkan oleh eksploitasi, ketidakadilan sosial, pencurian, dan penindasan, aku bersedia berlatih hidup dalam kedermawanan dalam pikiran, ucapan, dan perbuatan. Aku bertekad untuk tidak mencuri dan tidak memiliki sesuatu yang seharusnya milik pihak lain, aku akan berbagi waktu, energi, dan sumber materi bersama mereka yang membutuhkannya. Aku akan berlatih menatap secara mendalam untuk menyadari bahwa kebahagiaan dan penderitaan orang lain juga merupakan kebahagiaan dan penderitaan diriku, kebahagiaan sesungguhnya tak akan bisa hadir tanpa pengertian dan belas kasih; aku mengerti bahwa mengejar kekayaan, ketenaran, kekuasaan, dan kenikmatan sensual bisa membawa semakin banyak penderitaan dan keputusasaan. Aku sadar sepenuhnya bahwa kebahagiaan berhubungan erat dengan sikap mental dan kebahagiaan tidak bergantung pada kondisi eksternal. Aku bisa hidup dengan bahagia pada momen kini hanya dengan mengingat bahwa aku sudah memiliki kondisi secukupnya untuk berbahagia. Aku bertekad untuk berlatih hidup sesuai dengan mata pencaharian benar sehingga aku bisa ikut membantu mengurangi penderitaan makhluk lain di dunia ini dan memutar balik arus pemanasan global.


Latihan Eling Ketiga:
Cinta Sesungguhnya

Sadar akan penderitaan yang disebabkan oleh penyimpangan perilaku seksual, aku bersedia untuk menumbuhkan sikap tanggung jawab dan mencari cara untuk melindungi keamanan dan integritas individual, pasangan, keluarga, dan masyarakat. Tahu bahwa nafsu seksual bukanlah cinta, dan aktivitas seksual yang didorong oleh nafsu keinginan selalu melukai diriku kemudian juga melukai pihak lain, aku bertekad untuk tidak terlibat dalam hubungan seksual yang tanpa dilandasi cinta sesungguhnya, cinta mendalam, komitmen jangka panjang yang diberitahukan kepada famili dan para sahabat. Aku akan bertindak sesuai kemampuanku dalam melindungi anak-anak dari pelecehan seksual dan mencegah perceraian pasangan dan keluarga yang diakibatkan oleh perilaku seksual tidak pantas. Mengerti bahwa badan jasmani dan pikiran merupakan satu kesatuan, aku bersedia mencari cara pantas untuk menjaga energi seksual dan menumbuhkan cinta kasih, belas kasih, suka cita, dan sikap inklusif, yang merupakan empat elemen dasar cinta sesungguhnya demi kebahagiaan lebih besar bagi diriku dan pihak lain. Kita tahu bahwa berlatih cinta sesungguhnya, kita akan terus dilanjutkan dengan indah di masa depan.


Latihan Eling Keempat:
Ucapan Cinta Kasih dan Mendengar Mendalam

Sadar akan penderitaan yang disebabkan oleh bicara tanpa berkesadaran dan ketidakmampuan untuk mendengarkan pihak lain, aku bersedia untuk menumbuhkan ucapan cinta kasih dan mendengar mendalam demi mengurangi penderitaan dan upaya menciptakan rekonsiliasi dan perdamaian dalam diriku dan sesama orang lain, etnik, sahabat religius, dan antar negara. Mengetahui bahwa kata-kata dapat menghadirkan kebahagiaan maupun menciptakan penderitaan, aku bersedia berbicara sesuai keadaan yang sesungguhnya dengan menggunakan kata-kata yang dapat memunculkan keyakinan, suka cita, dan harapan. Ketika kemarahan membara dalam diriku, untuk sementara aku bertekad untuk tidak berbicara. Aku akan berlatih napas dan jalan penuh kesadaran untuk mengenali kehadiran kemarahan dan kemudian menatap mendalam untuk mengetahui akar permasalahan, terutama akar persepsi keliru dan pengertian kurang lengkap atas penderitaan dalam diriku maupun pihak lain. Aku akan berbicara dan mendengar dengan sedemikian rupa sehingga membantu meringankan penderitaan pihak lain dan mencari cara untuk keluar dari situasi sulit itu. Aku bertekad untuk tidak menyebarkan berita-berita yang belum aku ketahui dengan pasti dan juga tidak melontarkan kata-kata yang dapat menyebabkan perpecahan dan perselisihan. Aku akan berlatih semangat ketekunan benar untuk menunjang kapasitas dalam hal pengertian, cinta kasih, suka cita, dan inklusif, secara perlahan-lahan mentransformasikan kemarahan, kekerasan, dan ketakutan yang terselubung jauh dalam kesadaranku.


Latihan Eling Kelima:
Nutrisi dan Penyembuhan

Sadar akan penderitaan yang disebabkan oleh konsumsi tidak disertai dengan kesadaran, aku bersedia menjaga kesehatan dengan baik secara fisik maupun mental bagi diriku sendiri, keluarga, dan masyarakat dengan cara berlatih makan, minum, dan mengonsumsi dengan penuh kesadaran. Aku akan berlatih menatap mendalam bahan konsumsiku yang terdiri dari empat jenis makanan yaitu makanan lewat mulut, kesan impresi, niat, dan kesadaran. Aku bertekad untuk tidak menggunakan alkohol, obat-obat terlarang, terlibat dalam perjudian atau produk-produk yang mengandung toksin seperti situs internet, permainan elektronik, program televisi, film, majalah, buku, dan percakapan. Aku akan berlatih kembali pada momen kekinian untuk menyentuh kesegaran, penyembuhan, dan elemen nutrisi dalam diriku dan sekitarku, tidak membiarkan penyesalan dan kemurungan menyeretku kembali ke masa lalu, juga tidak membiarkan kecemasan, ketakutan, dan kemelekatan menarik aku keluar dari momen kekinian. Aku bertekad untuk tidak menutupi kesepian, kecemasan, atau penderitaan jenis lainnya dengan cara tenggelam dalam mengkonsumsi. Aku akan merenungkan sifat saling bergantungan dan mengkonsumsi dengan sedemikian rupa sehingga bisa memelihara kedamaian, suka cita, dan kesehatan badan jasmani dan kejernihan kesadaran sendiri maupun kolektif dalam cakupan keluarga, masyarakat, dan dunia ini.  

Berbagi Jasa Kebajikan


Membaca sutra, mempraktikkan jalan penuh kesadaran,
memberikan manfaat tanpa batas.
Kami bersedia untuk berbagi hasil kemajuan praktik kepada semua makhluk.
Kami bersedia untuk mempersembahkan penghormatan kepada orang tua,
para guru, sahabat, serta makhluk-makhluk yang tak terhitung jumlahnya
yang telah memberikan bimbingan dan dukungan di sepanjang jalan.

Sutta Cinta Kasih (Karaniyametta Sutta)


      Ini yang harus dikerjakan oleh dia yang terampil dalam kebaikan
        untuk mencapai ketenangan
        harus mampu, jujur, sungguh jujur
        ikhlas, lemah lembut, tiada sombong

        Merasa puas dan mudah dilayani
        tidak sibuk berlebihan dan hidup sederhana
        tenang indranya dan waskita
        rendah hati, tidak melekat pada keluarga

        Tak berbuat kesalahan barang sekecil apa pun
        yang dapat dicela oleh orang bijaksana
        semoga kita bahagia dan sentosa
        semoga semua makhluk berbahagia

        Makhluk hidup apa pun juga
        yang bergerak dan tidak bergerak, tanpa kecuali
        yang panjang atau gemuk
        yang sedang, pendek, kecil, atau besar

        Yang terlihat atau yang tak terlihat
        yang jauh atau yang dekat
        yang telah lahir atau yang akan dilahirkan
        semoga semua makhluk berbahagia

        Tidak menipu orang lain
        tidak menghina siapa saja di mana saja
        jangan karena marah dan benci
        mengharapkan orang lain celaka

        Bagaikan seorang ibu mempertaruhkan jiwanya
        melindungi anaknya yang tunggal
        demikianlah terhadap semua makhluk
        cinta kasih dalam pikiran dipancarkan tanpa batas

        Cinta kasih ke segenap alam semesta
        dalam pikiran dipancarkan tanpa batas
        ke atas, ke bawah, dan ke sekeliling
        tanpa rintangan, tanpa kebencian dan permusuhan

        Selagi berdiri, berjalan, atau duduk
        atau berbaring selama tiada lelap
        dia tekun mengembangkan perhatian penuh kesadaran ini
        yang disebut Kediaman Luhur

        Tidak tergelincir pada pandangan yang keliru
        dengan sila dan pandangan yang sempurna
        setelah melepaskan kemelekatan nafsu indra
        dia tidak akan pernah kembali lagi ke dalam rahim.

Sutta Pertanda Baik (Maṅgala Sutta)

Aku telah mendengar kata-kata Buddha ini
suatu ketika saat Bhagawa sedang berdiam di sekitar Sawatthi
di Arama Anathapindika di Hutan Jeta.
Larut malam, seorang dewa muncul dengan cahaya dan keindahannya
membuat seluruh Hutan Jeta bersinar dengan cemerlang.
Setelah memberi hormat kepada Buddha,
sang dewa menanyakan kepada Beliau
sebuah pertanyaan dalam bentuk syair:

“Banyak dewa dan manusia ingin sekali tahu
apakah itu pertanda baik
yang membawa pada kehidupan damai dan bahagia.
Mohon, Tathagata, sudikah Engkau mengajarkan kami?”

“Tidak bergaul dengan orang-orang dungu,
hidup bersama dengan orang-orang bijaksana,
menghormati mereka yang patut dihormati—
inilah pertanda baik.

“Hidup dalam lingkungan yang baik,               
menanam benih-benih yang baik
dan menyadari bahwa anda berada di jalan yang benar—
inilah pertanda baik.

“Memiliki kesempatan untuk belajar dan tumbuh,
terampil dalam profesi atau keahlianmu,
menjalankan sila dan berucap penuh kasih—
inilah pertanda baik.

“Sanggup melayani dan menyokong orangtuamu,
menghargai keluargamu sendiri,
memiliki pekerjaan yang membuatmu gembira—
inilah pertanda baik.

“Hidup dengan jujur, murah hati dalam memberi,
memberikan sokongan kepada sanak keluarga dan teman-teman,
menjalankan kehidupan dengan tingkah-laku yang tak tercela—
inilah pertanda baik.
       
“Menghindari tindakan-tindakan yang tidak sehat,
tidak terperangkap oleh minuman keras atau narkoba,
dan rajin melakukan hal-hal yang baik—
inilah pertanda baik.

“Rendah hati dan berkelakuan sopan,
bersyukur dan puas dengan kehidupan sederhana,
tidak membuang kesempatan untuk belajar dharma—
inilah pertanda baik.

“Gigih dan terbuka untuk perubahan,
secara berkala bertemu dengan para biksu dan biksuni,
dan berpartisipasi penuh dalam diskusi dharma—
inilah pertanda baik.

“Hidup dengan rajin dan penuh perhatian,
memahami Empat Kebenaran Mulia,
dan merealisasi nirwana—
inilah pertanda baik.

“Hidup di dunia
dengan hatimu yang tak terusik oleh dunia,
dengan berakhirnya semua kesedihan, bersemayam dalam kedamaian—
inilah pertanda baik.

“Bagi orang yang menyempurnakan ini,
tidak terkalahkan di mana pun dia pergi;
dia selalu aman dan bahagia—
kebahagiaan hidup dalam dirinya.”

Pembuka Puja


“Sanggha diundang untuk kembali kepada napasnya,
sehingga energi kebersamaan perhatian penuh kesadaran
mempersatukan kita
menjadi satu makhluk hidup tunggal,
mengalir bagaikan sungai,
tiada lagi cerai berai pemisahan,
izinkanlah Sanggha bernapas bagaikan satu tubuh,
melantun bagaikan satu tubuh,
mendengar bagaikan satu tubuh,
menembus jauh melampaui garis pembatas
sang aku yang tidak nyata,
menembus batas ketidakmampuan dalam mengatasi
perasaan kompleks superior, kompleks inferior,

dan kompleks kesepadanan sejajar.”

Minggu, 20 November 2011

Dua Belas Hutang Kamma Sang Buddha


 1. Fitnahan Sundari
Dalam kehidupan lampau, Bakal Buddha adalah seorang pemabuk bernama Munali. Ia menuduh Pacceka Buddha bernama Surabhi dengan tuduhan kasar, “Orang ini adalah orang yang tidak bermoral yang menyenangi kenikmatan indria secara diam-diam.”
Karena kejahatan ucapan-Nya, Beliau terlahir kembali di alam penderitan terus-menerus (Niraya). Dan dalam kehidupan terakhirnya sebagai Bhagavà, di depan umum Beliau difitnah oleh Sundari, petapa pengembara perempuan sebagai pencari kesenangan dan telah menjalin hubungan cinta dengannya.

2. Fitnahan Cincamana
Dalam kehidupan lampau, Bakal Buddha adalah seorang siswa bernama Nanda dari seorang Pacceka Buddha bernama Sabbàbhibhu. Ia menuduh gurunya sebagai seorang yang bersifat tidak baik.
Karena kejahatan ucapan-Nya, Beliau harus menderita selama seratus ribu tahun di Alam Niraya. Ketika terlahir sebagai manusia, sering kali Beliau dituduh melakukan kejahatan. Dalam kehidupan terakhir-Nya sebagai Buddha, di depan umum Beliau difitnah sekali lagi oleh Cincamana sebagai seorang asusila yang menyebabkan kehamilannya.

3. 500 Murid Buddha menerima fitnahan Sundari
Bakal Buddha adalah seorang brahmana guru yang menguasai tiga Veda, seorang yang sangat terhormat. Sewaktu Beliau sedang mengajarkan Veda di Hutan Mahàvana kepada lima ratus siswa, Bhagavà Mengajarkan Tujuh Faktor Ketidakmunduran Bagi Para Penguasa. Saat itu mereka melihat di angkasa seorang petapa suci bernama Bhãma mendatangi hutan ini dengan kekuatan batinnya. Bukannya terinsiprasi, Bodhisatta malah memberitahu lima ratus siswa-Nya bahwa petapa itu adalah seorang munafik yang mencari kesenangan. Para siswa memercayai apa yang dikatakan oleh guru mereka dan menyebarkan kata-kata gurunya tentang petapa suci itu sewaktu ia sedang mengumpulkan dàna makanan.
Lima ratus siswa itu terlahir kembali sebagai para bhikkhu siswa Bhagavà. Karena fitnah yang mereka lakukan terhadap sang petapa suci sebagai lima ratus siswa brahmana guru dalam kehidupan lampau, mereka dituduh telah membunuh Sundari, si petapa pengembara perempuan, yang sebenarnya adalah korban para petapa itu. Harus dimengerti bahwa tuduhan terhadap para siswa Buddha juga berarti tuduhan terhadap Bhagavà sendiri.

4. Percobaan pembunuhan oleh Devadatta dengan menggunakan batu besar.
Dalam kehidupan lampau, Bakal Buddha membunuh adik sepupunya karena iri hati. Ia melemparkan adiknya ke dalam jurang kemudian melemparnya dengan sebuah batu besar.
Karena perbuatan jahat itu, Bhagavà dalam kehidupan terakhirnya, menjadi korban rencana Devadatta yang hendak membunuh-Nya; tetapi karena seorang Buddha tidak dapat dibunuh, Beliau hanya menderita luka di jari kaki-Nya karena terkena pecahan batu yang dijatuhkan dari atas bukit oleh Devadatta.

5. Percobaan pembunuhan oleh Devadatta dengan menggirimkan kelompok pembunuh.
Dalam salah satu kehidupan lampau, Bakal Buddha adalah seorang anak nakal dan ketika Beliau bertemu dengan seorang Pacceka Buddha dalam suatu perjalanan, untuk bersenang-senang, Beliau melempari pribadi mulia tersebut dengan batu.
Karena perbuatan jahat itu, Bhagavà pernah diserang oleh sekelompok pemanah yang diutus oleh Devadatta yang bertujuan untuk membunuh Buddha.

6. Percobaan pembunuhan oleh Devadatta dengan menggunakan Gajah Nalagiri
Ketika Bakal Buddha adalah seorang penunggang gajah, Beliau dengan gajah-Nya, menakut-nakuti seorang Pacceka Buddha yang sedang mengumpulkan dàna makanan yang seolah-olah hendak menginjak-injak orang mulia tersebut.
Karena perbuatan itu, Bhagavà diancam oleh seekor gajah mabuk bernama Nalagiri di Ràjagaha yang dikirim Devadatta untuk menginjak-injak Bhagavà.

7. Terluka akibat pecahan batu yang digelindingkan Devadatta
Dalam salah satu kehidupan lampau-Nya, Bodhisatta adalah seorang raja. Karena keangkuhan-Nya sebagai raja, ia mengeksekusi seorang narapidana (tanpa mempertimbangkan akibat kamma) dengan tangan-Nya sendiri menusuk orang itu dengan tombak.
Kejahatan itu membawa-Nya ke alam penderitaan terus-menerus selama banyak tahun yang sangat lama. Dalam kehidupan-Nya sebagai Bhagavà, Beliau menerima perawatan atas jari kaki-Nya yang luka dengan dibedah oleh Jãvaka, seorang dokter ahli, untuk menyembuhkannya (saat terkena pecahan batu yang dijatuhkan oleh Devadatta).

8. Pembantaian Sanak Keluarga Sakya dan sakit kepala yang dialami Buddha
Dalam salah satu kehidupan lampau-Nya, Bakal Buddha terlahir dalam sebuah keluarga nelayan. Beliau biasanya bergembira menyaksikan sanak saudara-Nya menyakiti dan membunuh ikan. (Beliau sendiri tidak melakukan pembunuhan).
Sebagai akibat dari kejahatan pikiran-Nya, dalam kehidupan terakhir-Nya sebagai Buddha, Beliau sering mengalami sakit kepala. Sedangkan sanak saudara-Nya dalam kehidupan itu, mereka terlahir kembali sebagai para Sakya yang dibantai oleh Vitatubha.

9. Menerima dana berupa gandum
Ketika Bakal Buddha terlahir sebagai manusia pada masa ajaran Buddha Phussa, ia mencerca para bhikkhu siswa Buddha dengan berkata, “Kalian hanya pantas makan gandum, bukan nasi.”
Kata-kata kasar itu berakibat, dalam kehidupan terakhir-Nya, Bhagavà terpaksa memakan makanan gandum selama masa vassa di Desa Brahmana Veranjà (Beliau menetap di sana atas undangan Brahmana Veranjà)

10. Sakit punggung pada Sang Buddha
Pernah Bakal Buddha terlahir sebagai seorang petinju bayaran, saat itu ia memukul punggung lawannya hingga patah. Sebagai akibat dari kejahatan ini, Bhagavà dalam kehidupan terakhir-Nya sering mengalami sakit punggung.

11. Diare akut pada Sang Buddha
Ketika Bakal Buddha terlahir sebagai seorang dokter dalam salah satu kehidupan lampau-Nya, ia dengan sengaja meresepkan obat yang menyebabkan sakit perut kepada putra seorang kaya yang enggan membayar jasa-Nya. Atas kejahatan itu, Bhagavà dalam kehidupan terakhir-Nya menderita penyakit disentri yang akut dan berdarah, sebelum meninggal dunia.

12. Dukkharacariya (penyiksaan diri sebelum menjadi Buddha) selama 6 tahun
Bodhisatta pernah terlahir sebagai seorang brahmana bernama Jotipala. Ia mengucapkan kata-kata hinaan terhadap Buddha Kassapa dengan berkata, “Bagaimana mungkin bahwa orang gundul ini telah mencapai Pencerahan Sempurna? Pencerahan Sempurna adalah hal yang sangat jarang terjadi.”
Kata-kata hinaan ini berakibat tertundanya Pencerahan Sempurna Bhagavà. Para Bodhisatta lainnya mencapai Pencerahan Sempurna hanya dalam hitungan hari atau bulan, Buddha Gotama harus melewati enam tahun penuh penderitaan dalam pencarian-Nya.

*Hal yang bisa dipelajari dari 12 Hutang Karma Sang Buddha :

1. Buddha mengajarkan dan sudah menunjukkan untuk berani menghadapi semua akibat perbuatan yang pernah diperbuat sebelumnya. Mau menghindarpun tidak bisa, lebih baik menghadapi dengan berani.

2. Kamma pada saat tertentu bisa memanfaatkan kondisi yang ada untuk mematangkan buah kamma. Contohnya adalah permusuhan Buddha dan Devadatta. Walaupun demikian, Devadatta tidak melakukan pahala dengan memenuhi kamma yaitu melukai kaki Sang Buddha. Malah Devadatta masuk Neraka Avici karena perbuatannya ini.

3. Jika Sang Buddha “hanya” membayar 12 kamma terakhir-Nya, berapa banyak kamma kita yang masih harus dibayar? Berhentilah menanam kamma buruk sesegera mungkin.

Sumber: http://www.samaggi-phala.or.id